| Attributes | Values |
|---|
| rdfs:label
| - Silsilah Hadits Dhaif/1/49
|
| rdfs:comment
| - Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: Oleh karena, tidaklah kita mendengar penceramah dalam nasehatnya, guru/dosen dalam kelasnya, khatib dalam khutbahnya kecuali kita mendapatkan disana ada hadits-hadits lemah atau palsu, dan ini merupakan perkara serius karena dikhawatirkan mereka masuk dalam ancaman hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka." (hadits shahih mutawatir)
|
| dcterms:subject
| |
| dbkwik:id.islam/pr...iPageUsesTemplate
| |
| abstract
| - Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: Oleh karena, tidaklah kita mendengar penceramah dalam nasehatnya, guru/dosen dalam kelasnya, khatib dalam khutbahnya kecuali kita mendapatkan disana ada hadits-hadits lemah atau palsu, dan ini merupakan perkara serius karena dikhawatirkan mereka masuk dalam ancaman hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka." (hadits shahih mutawatir) Meskipun mereka tidak bersengaja berdusta, namun mereka melakukan juga hal tersebut sebagai akibat dari penukilan mereka atas hadits-hadits yang mereka diam terhadap (keadaan hadits-hadits tersebut) padahal mereka tahu bahwa di dalam hadits-hadits tesebut ada kelemahan dan kedustaan. Dan ini telah diisyaratkan dalam sabda Nabi shallalalhu 'alaihi wasallam : "Cukuplah seseorang dianggap pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar." diriwayatkan Muslim dalam mukadimmah shahihnya dan selainnya, dari Abu Hurairah. Juga diriwayatkan dari imam Malik, ia berkata, "Ketahuilah bahwa tidaklah selamat seseorang yang menceritakan semua yang ia dengar, dan tidaklah pantas ia menjadi imam selamanya jika ia menceritakan semua yang ia dengar." Dan berkata imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya hal. 27, "Pasal dipastikannya masuk neraka bagi siapa yang menisbatkan sesuatu kepada al-Musthofa (Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam) sementara ia tidak mengetahui keshahihannya."
|